Kersaaken, Setitik Kerajaan Buleleng


Desa Kerso, desa yang terletak di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Banyak legenda masyarakat yang menceritakan bagaimana sejarah desa Kerso dapat dinamakan “Kerso”. Desa Kerso terletak ditengah-tengah yang diapit oleh beberapa desa, walaupun tergolong dengan wilayah desa yang tidak luas akan tetapi penunjang pendidikan yang dimiliki oleh desa Kerso sangatlah lengkap mulai dari pendidikan PAUD, TK, RA, SD, MI, SMP, MTs, MA dan SMK.
Ada beberapa versi yang menceritakan tentang sejarah asal-usul nama Kerso. Menurut versi yang pertama yaitu yang paling banyak dipahami oleh masyarakat adalah  desa Kerso tidak dapat dipisahkan dari hubungan Kerajaan Buleleng “Singaraja” Bali dan Jepara, yang sudah terjalin sejak ratusan tahun silam.  Aktifitas perdagangan melalui jalur laut sudah berlangsung sejak lama di wilayah Jepara, hingga menurut masyarakat sekitar, desa Kerso pertama kali ditempati oleh seorang ulama’ dan wali Allah yang bernama Mbah Gurnadi Singaraja dari Bali. Mbah Gurnadi merupakan putra dari Raja Singaraja Bali, yang mempunya 2 putra laki-laki yaitu Gurnadi dan Gurnanda.
Ketika Mbah Gurnadi telah setelah menimba ilmu beliau ingin berdakwa dan melalang buana akan tetapi belum di restui oleh orang tuanya setelah menunggu lama untuk mendapat restu Mbah Gurnadi pergi berdakwa. Mbah Gurnadi pergi berdakwa bukan menaiki kapal tetapi menaiki guli-guli (seperti tong)  dan membawa bekal, akan tetapi bekal yang dibawa bukanlah beras tetapi biji pohon aren (kolang-kaling) dan pasir didalam guli-guli tersebut, Mbah Gurnadi menaiki guli-guli dari bali hingga sampai di Jepara tepatnya di Ujung Batu.
Sesampainya di darat Mbah Gurnadi berjalan sampai di desa Semat, Tanggul Tlare, dan sampailah di desa Kerso, sebelumnya belum dinamakan desa Kerso dan merupakan daerah dekat sungai yang tumbuh banyak pohon gayam dan pohon nifah (Aren). Disana Mbah Gurnadi menetap dan melakukan kontak langsung dengan masyarakat dan disambut dengan baik. Karena cara berpakaian  Mbah Gurnadi yang selalu menggunakan jubah dan sorbah (ikat kepala) sehingga masyarakat mengatakan Mbah Datuk yang berasal dari Singaraja Bali hingga menjadi Mbah Datuk Singaraja. Datuk merupakan gelar kehormatan bagi orang tua yang memunyai ilmu pengetahuan yang tinggi.
Setelah beberapa tahun Mbah Datuk Singaraja di Kerso beliau melanjutkan perjalanan menyebarkan agama islam sampai di desa Troso, disana beliau ingin membuat masjid di dekat sawah, setelah semua bahan yang diperlukan sudah siap dilihatlah bekal untuk membuat masjid seperti peralatan tukang (gaman) tidak ada, hingga beliau mencari sambil kembali kedesa Kerso, dan disana ditemukan seperangkat alat tukang satu peti, sehingga beliau memutuskan untuk membuat masjid juga di desa Kerso. Beliau mengatakan kalau sudah di “Kersaaken” membuat masjid dulu di desa Kerso. Sehingga  dinamakan desa Kerso dari kata “Kersaaken” yang artinya Boleh. Setelah membuat masjid di Kerso beliau melanjutkan perjalan kedesa Troso dan membuat masjid juga disana.
Masjid yang dibangun oleh Mbah Datuk Singaraja diberi nama Masjid Datuk Singaraja dan juga terdapat sumur didalamnya, akan tetepi sumur itu dulu tidak terdapat didalam masjid, karena ada beberapa renovasi hingga sumur itu dialihkan kedalam masjid dan masih terjaga sampai sekarang, menurut kepercayaan desa Kerso air dari sumur tersebut dipercaya sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, tidak hanya itu Mbah Datuk Singaraja setelah meninggalkan tempat berdakwahnya selalu meninggalkan sebuah peninggalan seperti masjid, sumur, serta pohon nifah (Aren), karena saat beliau memulai berdakwah bekal yang beliau bawa dari Bali hanyalah biji kolang-kaleng, semua itu dapat dibuktikan seperti di Masjid Datuk Singaraja Kerso, Masjid di Troso, serta di Mayong di makam Mbah Datuk Singaraja.
Kemudian ketika Mbah Datuk Singaraja menetap di desa Kerso, adik Mbah Datuk Singaraja yaitu Gurnanda yang juga pangeran di Singaraja Bali ingin menikah dengan gadis kaum Sudra, akan tetapi pernikahan itu tidak disetujui oleh kedua orang tuanya yaitu Raja Singaraja Bali, sampai-sampai gadis itu bunuh diri dan Gurnanda patah hati, sehingga memutuskan untuk mengembara dan menyusul kakaknya Gurnadi, setelah melakukan perjalanan sampailah dipantai Semat dan langsung kedesa Kerso, akan tetapi pada saat itu Mbah Datuk Singaraja sudah melakukan perjalanan kedesa Troso. Dan akhirnya Gurnanda menetap di desa Kerso dan meneruskan perjuangan kakaknya menyebarkan agama islam, Gurnanda membujang dan tidak menikah sampai beliau wafat dan dimakamkan di desa Kerso, oleh masyarakat desa Kerso, Gurnanda disebut sebagai Empu Joko karena belum menikah. Dan sekarang disebut Mbah Datuk Sikangkrang. Sikangkang yang berarti Membujang. Tidak diketahui secara pasti mengenai wafatnya Mbah Datuk Sikangrang.
Mbah Datuk Singaraja mempunyai murid bernama Mbah Safin. Mbah Safin dipercayai oleh masyarakat desa Kerso sebagai leluhur pendiri dari desa Kerso. Mbah Safin meneruskan perjuangan dakwah dari Mbah Datuk Singaraja untuk menyebarkan agama islam di desa Kerso. Mbah Safin mendapat pesan dari Mbah Datuk Singaraja untuk melanjutkan dakwah di desa Kerso dan ditinggali beberapa peninggalan Mbah Datuk Singaraja sepeti Masjid, Al-quran, Alat penimbanan zakat, tongkat mimbar,dll
Ketiga tokoh yaitu Mbah Datuk Singaraja, Mbah Datuk Sikangkrang, dan Mbah Safin merupakan seorang wali atau tokoh yang menyebarkan agama islam di desa Kerso, ketiga tokoh tersebut tidak dipisahkan dari perjalanan berdirinya desa Kerso dan masyarakat desa Kerso sangat menghormati ketiga tokoh tersebut.
Mbah Datuk Singaraja sebelum melanjutkan perjalanan menyebarkan agama islam beliau meninggalkan beberapa jejak peninggalan, seperti (1) Masjid Jamik Datuk Singaraja dengan 8 pilar masjid, 4 diantaranya asli. Pilar atau soko guru penyangga itu disebut-sebut berbahan kayu jati yang terpotong-potong (tatal) yang kemudian disusun ulang seperti pazzle dengan bangun simestris mengunci, mirip tiang penyangga Masjid Agung Demak. (2) Sumur Tua, yang berada didalam Masjid Datuk Singaraja ini dipercaya masyarakat dapat menyembuhkan berbagai penyakit, pengunjung dari beberapa daerah mengunjungi sumur tua untuk meminta keberkahan dalam menyembuhkan berbagai penyakit. (3) Al-Quran, berupa tulisan tangan yang ditulis oleh Mbah Datuk Singaraja denagn menguunakan bahan pewarna alami seperti dedahunan, (4) Alat Penimbang Zakat, alat tersebut dari kayu dan digunakan untuk menimbang zakat sesuia ketentuan Rosulullah.
Versi yang kedua berhubungan dengan sejarah Sultan Hadlirin Mantingan dengan Pangeran Arya Penangsang yang mempunyai konflik dengan Sultan Hadlirin dan mencoba untuk melukai dan membunuh Sultan Hadlirin, disaat Sultan Hadlirin sudah terluka oleh Keris Arya Penangsang, pasukan Sultan Hadlirin segera menolong dan membopong Sultan Hadlirin dengan tandu dan membawanya pergi agar tidak dikejar oleh pasukan Arya Penangsang. Akan tetapi saat membotong Sultan Hadlirin diperjalanan terjadi kejadian-kejadian yang membuat pasukan Sultan Hadlirin kelelahan dan harus istirahat, hingga sampai diperempatan mereka istirahat sejenak dan melihat keadaan Sulta Hadlirin semakin parah dan menemui ajalnya, hingga penasehat kerajaannya mengatakan bahwa “Sultan Hadirin telah dikersaaken Gusti Allah sowan dalem ngarsanipun Gusti Allah” sehingga dinamakan desa Kerso dari kata Kersaaken.

Sumber :
Wawancara dengan Bapak Ahmadun, salah satu Modin dan perangkat desa Kerso, 24 juni 2018 pukul 09.34 WIB         




Biodata
Nama               : ULFA SHOFIYASTUTI
TTL                 : Jepara, 01 Agustus 1998
Alamat             : Desa Kerso Rt.07 Rw.02 Kec. Kedung, Kab. Jepara
Pekerjaaan       : Mahasiswa
No. HP             : 0857-4252-3095

Komentar

  1. Balasan
    1. bagus mbk. 👍
      klau boleh tau dapat daftar pustaka dari mana mbk
      @muhammad najib

      Hapus
  2. Tros yg nmanya mbah sofin sama mbah sikrangkang kok g di libatkan

    BalasHapus

Posting Komentar